Sabtu, 11 Agustus 2007
Pagi :
Mendapat kepastian kabar tak sedap dari keluarga di jakarta. Hati jadi tak tenteram, nggak tenang, sedih.
Satu hal, memutuskan untuk pilates saja, telat dikit gak papalah. Paling ketinggalan awal-awal doang, pikirku.
Pagi menjelang siang:
Di tempat pilates, nggak bisa fokus, apalagi konsenterasi penuh.
Selesai latihan, ditanyain (dengan nada keras, seperti anak sd jaman dulu yang nggak ngerjain pe-er) mengapa telat padahal saya yang minta jam mulai latihan.
Emosi bangkit, tapi tidak mampu berkata dan menjawab. Dada sesak, merasa diperlakukan tidak adil, tapi tidak berfikir untuk melawan. Halah, malas.
Di luar tempat latihan, suami belum datang. Bete lagi.
Telpon nggak diangkat, pfff, akhirnya datang juga.
Siang:
Di rumah, masih tak habis fikir dengan kejadian pilates tadi. Masih memikirkan rasionalitasnya marah karena saya datang telat. Apakah mengganggu konsentrasi orang lain? Kalau iya, kenapa dari awal tidak disebutkan "Lebih baik tidak usah datang samasekali daripada datang telat dan mengganggu orang banyak"?
Berfikir lagi dan menjadi suuzan alias buruk sangka.
Setiap minggu selalu berakhir dengan topik "apakah kita tetap mulai jam segini?". Tapi hari itu, langsung dimundurkan jadi jam 10.00 karena saya tidak mampu menepati janji datang 9.30.
Apa yang membuat saya berburuk sangka?
Kalimat ini, "Ok then, next friday I can start going out at night again".
Oh, okay, kalau memang maksud dan tujuannya begitu, baiklah. Saya toh pilates buat fun dan menambah manfaat berolahraga. Saya senang dan cocok dengan ritme gerakannya. Tapi saya tidak suka diperlakukan sebegitu.
Apa saya sebegitu berat kesalahannya? Suami saya saja tidak pernah berkata dengan tone seperti itu walaupun dia sedang kesal atas sesuatu hal. Ini lelaki lain. Bah.
Saya marah sekali. Saya emosi.
Sore:
Suami saya pulang dengan membawa berita bahwa ada kejadian di tempat pertandingan badminton.
Seorang lelaki meninju lelaki lain di depan isteri dan anaknya.
Hati telah tersinggung, marwah keluarga telah tersentil.
Suami saya hanya mampu menengahi.
Ini marah yang terkeluar serta merta. Si lelaki satu menganggap ini jihad keluarganya.
Lelaki lain tidak menafikan kesalahannya.
Saya sedih.
Saya memahami lelaki yang memukul. Saya tidak mengasihani yang dipukul.
Saya sedih.
Isteri yang dipukul adalah teman saya. Isteri yang memukul ya teman juga.
Malam:
Mau mencari udara seagar, berakhir dengan udara asap hasil dari pembakar sate di damnasara.
Lumayanlah, makan sate yang bumbunya 'ngindonesia' banget.
Alhamdulillah.
Monday, August 13, 2007
Friday, August 10, 2007
Apa Kabar, teman?
Sigh..
Mengutip tag-nya ndoro itu, dunia emang sudah tua dan banyak kejutan di tikungan. Entah apa yang sudah terjadi, kok sepertinya nakutin.
Apa saya tidak boleh beli mainan lagi untuk anak saya karena nanti malah meracuninya dengan timbal atau bla bla bla yang saya tidak tahu namanya itu. Di milis, ada daftar panjang mainan-mainan keluaran produsen ternama (dan menurtu saya terpercaya) yang ternyata tidak aman dikonsumsi -eh- dimainkan oleh anak kita. Tidak tahu efek jangka panjangnya seperti apa, karena anak kita belum besar kan?
Di koran dan situs berita online, berbagai permen dan makanan dari negeri China tidak layak dikonsusmi karena kandungan formalin dan sebagainya juga, termasuk permen susu yang bisa dimaan dengan kulitnya itu..hmm.. (padahal di singapura, katanya permen itu aman dikonsumsi).
Tahun lalu, kosmetik murah produksi Cina juga ditarik dari peredaran karena merkuri tinggi dan sebagainya juga.
Tahun lalu -juga- panci teflon tidak aman digunkan, dapat menyebabkan kanker. Sehingga teman-teman (dan termasuk saya) menyegerakan diri membeli panci dan wajan stainless steel sebagai pengganti teflon. Namun tetap saya pakai si teflon itu untuk menggoreng ikan, anti lengket bo'.
Tahun lalu -lagi- peralatan makan melamin tidak aman digunakan terutama untuk makanan panas, karena kandungan melamin akan menjejaskan makanan panas. Untung saya ga suka pakai melamin, jadi tidak ikut teman-teman yang beli piring baru pengganti melamin, :p.
Tahun ini, sepatu Crocs diberi safety warrant untuk tidak dipakai di eskalator (coba perhatikan, buatan Cina juga lho..).
Hari ini -baca situs berita online lagi- pepsodent (household name for a toothpaste) juga mengandung formalin tapi masih dalam batas aman dikonsumsi..--wow nih buat unilever, tapi mereka pasti mampu mengatasinya--
Takutkah kita menghadapi masa depan?
Takutkah saya menghadapinya?
Bolehkah saya memilih santai saja?
Tetap membeli mainan yang saya suka dan anak saya suka, dan memikiran efek jangka panjangnya nanti-nanti saja?
Tetap memakai dan menggunakan apa-apa yang sudah betahun-tahun saya gunakan tapi hati-hati menggunakan produk baru?
Apa kabar, teman?
Bahaya sekalikah dunia ini?
Cuaca dunia pun seperti tak karuan. Banjir di sini. Super panas di sana. Kering di sini. Basah di sana.
Sudahlah, saya mau meonton serial tv dan bermain dengan diada saja.
btw, just a thought,
jangan-jangan penarikan produk cina itu adalah usaha amerika untuk menekan perekonomian mereka ya?
-kebanyakan nonton 24 nih saya-
Mengutip tag-nya ndoro itu, dunia emang sudah tua dan banyak kejutan di tikungan. Entah apa yang sudah terjadi, kok sepertinya nakutin.
Apa saya tidak boleh beli mainan lagi untuk anak saya karena nanti malah meracuninya dengan timbal atau bla bla bla yang saya tidak tahu namanya itu. Di milis, ada daftar panjang mainan-mainan keluaran produsen ternama (dan menurtu saya terpercaya) yang ternyata tidak aman dikonsumsi -eh- dimainkan oleh anak kita. Tidak tahu efek jangka panjangnya seperti apa, karena anak kita belum besar kan?
Di koran dan situs berita online, berbagai permen dan makanan dari negeri China tidak layak dikonsusmi karena kandungan formalin dan sebagainya juga, termasuk permen susu yang bisa dimaan dengan kulitnya itu..hmm.. (padahal di singapura, katanya permen itu aman dikonsumsi).
Tahun lalu, kosmetik murah produksi Cina juga ditarik dari peredaran karena merkuri tinggi dan sebagainya juga.
Tahun lalu -juga- panci teflon tidak aman digunkan, dapat menyebabkan kanker. Sehingga teman-teman (dan termasuk saya) menyegerakan diri membeli panci dan wajan stainless steel sebagai pengganti teflon. Namun tetap saya pakai si teflon itu untuk menggoreng ikan, anti lengket bo'.
Tahun lalu -lagi- peralatan makan melamin tidak aman digunakan terutama untuk makanan panas, karena kandungan melamin akan menjejaskan makanan panas. Untung saya ga suka pakai melamin, jadi tidak ikut teman-teman yang beli piring baru pengganti melamin, :p.
Tahun ini, sepatu Crocs diberi safety warrant untuk tidak dipakai di eskalator (coba perhatikan, buatan Cina juga lho..).
Hari ini -baca situs berita online lagi- pepsodent (household name for a toothpaste) juga mengandung formalin tapi masih dalam batas aman dikonsumsi..--wow nih buat unilever, tapi mereka pasti mampu mengatasinya--
Takutkah kita menghadapi masa depan?
Takutkah saya menghadapinya?
Bolehkah saya memilih santai saja?
Tetap membeli mainan yang saya suka dan anak saya suka, dan memikiran efek jangka panjangnya nanti-nanti saja?
Tetap memakai dan menggunakan apa-apa yang sudah betahun-tahun saya gunakan tapi hati-hati menggunakan produk baru?
Apa kabar, teman?
Bahaya sekalikah dunia ini?
Cuaca dunia pun seperti tak karuan. Banjir di sini. Super panas di sana. Kering di sini. Basah di sana.
Sudahlah, saya mau meonton serial tv dan bermain dengan diada saja.
btw, just a thought,
jangan-jangan penarikan produk cina itu adalah usaha amerika untuk menekan perekonomian mereka ya?
-kebanyakan nonton 24 nih saya-
Tuesday, April 03, 2007
This week theme: cape' ...!
Perjalanan itu dimulai hari jumat kemaren. Dari awal sudah gak enak memulainya. Tidak jadi ikut konvoi karena suatu hal yang tidak penting tapi tak dapat dijelaskan disini. Jadilah berangkat siang saat hari sudah mulai panas, mood juga sudah mulai memanas, diada juga sudah tidak mood di dalam mobil.
Hasilnya? Perjalanan yang seharusnya mengikuti petunjuk jalan 'ipoh' jadinya melewati 'jalan ipoh' yang akhirnya membuat kita berputar selama 1 jam di jalan itu baru bisa mencapai jalan tol.
Di Lumut (ini nama kota kecil negara bagian perak, kota pelabuhan untuk menyebrang ke pulau Pangkor), baru deh ketemu teman-teman lagi. Sepanjang akhir pekan cukup bersenang-senang, meski untuk nyari makan malam mesti keluar hotel dan menempuh perjalanan selama setengah jam lagi. Tapi, semuanya berharga kok. Makanan yang kita makan enak-enak, walaupun judul menunya sama aja dengan yang di Kuala Lumpur, tapi rasanya tetap unik dan pastinya lebih murah. Cihuy kan?
Nah, ketidakenakan baru bermula ketika memulai perjalanan balik ke Kuala Lumpur. Bermaksud berangkat lebih cepat karena mau makan siang dulu (dan di fast food saja biar cepat gitu maksudnya), eh malah yang terjadi tidak disangka-sangka.
Begitu selesai makan siang dan membeli sedikit oleh-oleh di sekitar pelabuhan jetty, perjalanan menuju teluk intan saja bukan main penuh perjuangan. Kita harus berhenti sekitar satu jam, karena di depan ada tabrakan beruntun dan jalan dialihkan menjadi satu arah secara bergantian. Alamak.. !
Setelah mulai berjalan, penderitaan tidak sampai disitu saja. Perjalanan yang normalnya cuma memakan waktu 3-4 jam itu berkembang menjadi 7jam! Kita berangkat resmi (setelah beli oleh0oleh) sekitar jam 3 dan baru sampa di restoran Garuda jam 10 malam teng! Saya sih tak bisa berbuat apa-apa selain men-support suami yang masih harus nginjak kopling (mana jalanan macet gitu, silakan bayangkan sendiri nyetir mobil manual), berdoa semoga diada tidak rewel, dan yang terutama mobil kami tidak berulah. Alhamdulillah, akhirnya semua sampai dengan selamat, walaupun komentar terakhirnya adalah: capeeeeee....!
Cerita sampingan saya nih:
Sewaktu berangkat menuju Lumut, kami sempat singgah di masjid untuk suami sholat jumat dan nyuapin diada makan siang. Waktu itu kebetulan azan belum bergema. Saya dan si mbak duduk di samping masjid, kebetulan ada meja dan bangku batu. Begitu azan selesai, ada seorang pakcik yang meneriaki gerombolan remaja yang sedang nongkrong di atas motor. Si pakcik berteriak-teriak memarahi mereka yang tetap tidak peduli dengan panggilan azan dan tidak segera memasuki majid. Gerombolan ini tetap tidak peduli. Si pakcik mengejar mereka dengan tongkat sapu sembari tetap berteriak-teriak. Gerombolan ini berpencar mencari selamat dari si tangkai sapu pakcik. Ada yang lari masuk masjid, ada yang masuk toilet, ada yang bersembunyi di balik mobil-mobil. Setelah tak satu pun terlihat, barulah pakcik masuk masjid dan sholat pun dimulai. Eeee seakan tahu sholat sudah bermula, gerombolan ini pun kembali ke pangkalan motor, menghidupkan mesin, menggas mesin kencang-kencang , dan kabur! Sungguh tidak menghormati masjid --pikir saya. Mereka sudah pun memakai baju rapih, kain sarung, dan kopiah. Saya cuma bisa menarik nafas panjang saja Di mobil, saya bercerita dengan suami mengenai kejadian tadi. Suami saya malah bercerita betapa 'hangat'nya suasana di dalam masjid itu. Semua berpakaian rapih di dalam masjid, lengkap dengan kopiah. Suami jadi malu hati karena memakai baju kaos saja. Betapa mereka semua saling mengenal dan saling menyalami. Wah, mungkin ceritanya rindu kampung dan sanak saudara nih suami saya. Kami pun kembali melanjutkan 65km perjalanan menuju Damai Laut, Lumut.
Hasilnya? Perjalanan yang seharusnya mengikuti petunjuk jalan 'ipoh' jadinya melewati 'jalan ipoh' yang akhirnya membuat kita berputar selama 1 jam di jalan itu baru bisa mencapai jalan tol.
Di Lumut (ini nama kota kecil negara bagian perak, kota pelabuhan untuk menyebrang ke pulau Pangkor), baru deh ketemu teman-teman lagi. Sepanjang akhir pekan cukup bersenang-senang, meski untuk nyari makan malam mesti keluar hotel dan menempuh perjalanan selama setengah jam lagi. Tapi, semuanya berharga kok. Makanan yang kita makan enak-enak, walaupun judul menunya sama aja dengan yang di Kuala Lumpur, tapi rasanya tetap unik dan pastinya lebih murah. Cihuy kan?
Nah, ketidakenakan baru bermula ketika memulai perjalanan balik ke Kuala Lumpur. Bermaksud berangkat lebih cepat karena mau makan siang dulu (dan di fast food saja biar cepat gitu maksudnya), eh malah yang terjadi tidak disangka-sangka.
Begitu selesai makan siang dan membeli sedikit oleh-oleh di sekitar pelabuhan jetty, perjalanan menuju teluk intan saja bukan main penuh perjuangan. Kita harus berhenti sekitar satu jam, karena di depan ada tabrakan beruntun dan jalan dialihkan menjadi satu arah secara bergantian. Alamak.. !
Setelah mulai berjalan, penderitaan tidak sampai disitu saja. Perjalanan yang normalnya cuma memakan waktu 3-4 jam itu berkembang menjadi 7jam! Kita berangkat resmi (setelah beli oleh0oleh) sekitar jam 3 dan baru sampa di restoran Garuda jam 10 malam teng! Saya sih tak bisa berbuat apa-apa selain men-support suami yang masih harus nginjak kopling (mana jalanan macet gitu, silakan bayangkan sendiri nyetir mobil manual), berdoa semoga diada tidak rewel, dan yang terutama mobil kami tidak berulah. Alhamdulillah, akhirnya semua sampai dengan selamat, walaupun komentar terakhirnya adalah: capeeeeee....!
Cerita sampingan saya nih:
Sewaktu berangkat menuju Lumut, kami sempat singgah di masjid untuk suami sholat jumat dan nyuapin diada makan siang. Waktu itu kebetulan azan belum bergema. Saya dan si mbak duduk di samping masjid, kebetulan ada meja dan bangku batu. Begitu azan selesai, ada seorang pakcik yang meneriaki gerombolan remaja yang sedang nongkrong di atas motor. Si pakcik berteriak-teriak memarahi mereka yang tetap tidak peduli dengan panggilan azan dan tidak segera memasuki majid. Gerombolan ini tetap tidak peduli. Si pakcik mengejar mereka dengan tongkat sapu sembari tetap berteriak-teriak. Gerombolan ini berpencar mencari selamat dari si tangkai sapu pakcik. Ada yang lari masuk masjid, ada yang masuk toilet, ada yang bersembunyi di balik mobil-mobil. Setelah tak satu pun terlihat, barulah pakcik masuk masjid dan sholat pun dimulai. Eeee seakan tahu sholat sudah bermula, gerombolan ini pun kembali ke pangkalan motor, menghidupkan mesin, menggas mesin kencang-kencang , dan kabur! Sungguh tidak menghormati masjid --pikir saya. Mereka sudah pun memakai baju rapih, kain sarung, dan kopiah. Saya cuma bisa menarik nafas panjang saja Di mobil, saya bercerita dengan suami mengenai kejadian tadi. Suami saya malah bercerita betapa 'hangat'nya suasana di dalam masjid itu. Semua berpakaian rapih di dalam masjid, lengkap dengan kopiah. Suami jadi malu hati karena memakai baju kaos saja. Betapa mereka semua saling mengenal dan saling menyalami. Wah, mungkin ceritanya rindu kampung dan sanak saudara nih suami saya. Kami pun kembali melanjutkan 65km perjalanan menuju Damai Laut, Lumut.
This week theme: cape' ...!
Perjalanan itu dimulai hari jumat kemaren. Dari awal sudah gak enak memulainya. Tidak jadi ikut konvoi karena suatu hal yang tidak penting tapi tak dapat dijelaskan disini. Jadilah berangkat siang saat hari sudah mulai panas, mood juga sudah mulai memanas, diada juga sudah tidak mood di dalam mobil.
Hasilnya? Perjalanan yang seharusnya mengikuti petunjuk jalan 'ipoh' jadinya melewati 'jalan ipoh' yang akhirnya membuat kita berputar selama 1 jam di jalan itu baru bisa mencapai jalan tol.
Di Lumut (ini nama kota kecil negara bagian perak, kota pelabuhan untuk menyebrang ke pulau Pangkor), baru deh ketemu teman-teman lagi. Sepanjang akhir pekan cukup bersenang-senang, meski untuk nyari makan malam mesti keluar hotel dan menempuh perjalanan selama setengah jam lagi. Tapi, semuanya berharga kok. Makanan yang kita makan enak-enak, walaupun judul menunya sama aja dengan yang di Kuala Lumpur, tapi rasanya tetap unik dan pastinya lebih murah. Cihuy kan?
Nah, ketidakenakan baru bermula ketika memulai perjalanan balik ke Kuala Lumpur. Bermaksud berangkat lebih cepat karena mau makan siang dulu (dan di fast food saja biar cepat gitu maksudnya), eh malah yang terjadi tidak disangka-sangka.
Begitu selesai makan siang dan membeli sedikit oleh-oleh di sekitar pelabuhan jetty, perjalanan menuju teluk intan saja bukan main penuh perjuangan. Kita harus berhenti sekitar satu jam, karena di depan ada tabrakan beruntun dan jalan dialihkan menjadi satu arah secara bergantian. Alamak.. !
Setelah mulai berjalan, penderitaan tidak sampai disitu saja. Perjalanan yang normalnya cuma memakan waktu 3-4 jam itu berkembang menjadi 7jam! Kita berangkat resmi (setelah beli oleh0oleh) sekitar jam 3 dan baru sampa di restoran Garuda jam 10 malam teng! Saya sih tak bisa berbuat apa-apa selain men-support suami yang masih harus nginjak kopling (mana jalanan macet gitu, silakan bayangkan sendiri nyetir mobil manual), berdoa semoga diada tidak rewel, dan yang terutama mobil kami tidak berulah. Alhamdulillah, akhirnya semua sampai dengan selamat, walaupun komentar terakhirnya adalah: capeeeeee....!
Cerita sampingan saya nih:
Sewaktu berangkat menuju Lumut, kami sempat singgah di masjid untuk suami sholat jumat dan nyuapin diada makan siang. Waktu itu kebetulan azan belum bergema. Saya dan si mbak duduk di samping masjid, kebetulan ada meja dan bangku batu. Begitu azan selesai, ada seorang pakcik yang meneriaki gerombolan remaja yang sedang nongkrong di atas motor. Si pakcik berteriak-teriak memarahi mereka yang tetap tidak peduli dengan panggilan azan dan tidak segera memasuki majid. Gerombolan ini tetap tidak peduli. Si pakcik mengejar mereka dengan tongkat sapu sembari tetap berteriak-teriak. Gerombolan ini berpencar mencari selamat dari si tangkai sapu pakcik. Ada yang lari masuk masjid, ada yang masuk toilet, ada yang bersembunyi di balik mobil-mobil. Setelah tak satu pun terlihat, barulah pakcik masuk masjid dan sholat pun dimulai. Eeee seakan tahu sholat sudah bermula, gerombolan ini pun kembali ke pangkalan motor, menghidupkan mesin, menggas mesin kencang-kencang , dan kabur! Sungguh tidak menghormati masjid --pikir saya. Mereka sudah pun memakai baju rapih, kain sarung, dan kopiah. Saya cuma bisa menarik nafas panjang saja Di mobil, saya bercerita dengan suami mengenai kejadian tadi. Suami saya malah bercerita betapa 'hangat'nya suasana di dalam masjid itu. Semua berpakaian rapih di dalam masjid, lengkap dengan kopiah. Suami jadi malu hati karena memakai baju kaos saja. Betapa mereka semua saling mengenal dan saling menyalami. Wah, mungkin ceritanya rindu kampung dan sanak saudara nih suami saya. Kami pun kembali melanjutkan 65km perjalanan menuju Damai Laut, Lumut.
Hasilnya? Perjalanan yang seharusnya mengikuti petunjuk jalan 'ipoh' jadinya melewati 'jalan ipoh' yang akhirnya membuat kita berputar selama 1 jam di jalan itu baru bisa mencapai jalan tol.
Di Lumut (ini nama kota kecil negara bagian perak, kota pelabuhan untuk menyebrang ke pulau Pangkor), baru deh ketemu teman-teman lagi. Sepanjang akhir pekan cukup bersenang-senang, meski untuk nyari makan malam mesti keluar hotel dan menempuh perjalanan selama setengah jam lagi. Tapi, semuanya berharga kok. Makanan yang kita makan enak-enak, walaupun judul menunya sama aja dengan yang di Kuala Lumpur, tapi rasanya tetap unik dan pastinya lebih murah. Cihuy kan?
Nah, ketidakenakan baru bermula ketika memulai perjalanan balik ke Kuala Lumpur. Bermaksud berangkat lebih cepat karena mau makan siang dulu (dan di fast food saja biar cepat gitu maksudnya), eh malah yang terjadi tidak disangka-sangka.
Begitu selesai makan siang dan membeli sedikit oleh-oleh di sekitar pelabuhan jetty, perjalanan menuju teluk intan saja bukan main penuh perjuangan. Kita harus berhenti sekitar satu jam, karena di depan ada tabrakan beruntun dan jalan dialihkan menjadi satu arah secara bergantian. Alamak.. !
Setelah mulai berjalan, penderitaan tidak sampai disitu saja. Perjalanan yang normalnya cuma memakan waktu 3-4 jam itu berkembang menjadi 7jam! Kita berangkat resmi (setelah beli oleh0oleh) sekitar jam 3 dan baru sampa di restoran Garuda jam 10 malam teng! Saya sih tak bisa berbuat apa-apa selain men-support suami yang masih harus nginjak kopling (mana jalanan macet gitu, silakan bayangkan sendiri nyetir mobil manual), berdoa semoga diada tidak rewel, dan yang terutama mobil kami tidak berulah. Alhamdulillah, akhirnya semua sampai dengan selamat, walaupun komentar terakhirnya adalah: capeeeeee....!
Cerita sampingan saya nih:
Sewaktu berangkat menuju Lumut, kami sempat singgah di masjid untuk suami sholat jumat dan nyuapin diada makan siang. Waktu itu kebetulan azan belum bergema. Saya dan si mbak duduk di samping masjid, kebetulan ada meja dan bangku batu. Begitu azan selesai, ada seorang pakcik yang meneriaki gerombolan remaja yang sedang nongkrong di atas motor. Si pakcik berteriak-teriak memarahi mereka yang tetap tidak peduli dengan panggilan azan dan tidak segera memasuki majid. Gerombolan ini tetap tidak peduli. Si pakcik mengejar mereka dengan tongkat sapu sembari tetap berteriak-teriak. Gerombolan ini berpencar mencari selamat dari si tangkai sapu pakcik. Ada yang lari masuk masjid, ada yang masuk toilet, ada yang bersembunyi di balik mobil-mobil. Setelah tak satu pun terlihat, barulah pakcik masuk masjid dan sholat pun dimulai. Eeee seakan tahu sholat sudah bermula, gerombolan ini pun kembali ke pangkalan motor, menghidupkan mesin, menggas mesin kencang-kencang , dan kabur! Sungguh tidak menghormati masjid --pikir saya. Mereka sudah pun memakai baju rapih, kain sarung, dan kopiah. Saya cuma bisa menarik nafas panjang saja Di mobil, saya bercerita dengan suami mengenai kejadian tadi. Suami saya malah bercerita betapa 'hangat'nya suasana di dalam masjid itu. Semua berpakaian rapih di dalam masjid, lengkap dengan kopiah. Suami jadi malu hati karena memakai baju kaos saja. Betapa mereka semua saling mengenal dan saling menyalami. Wah, mungkin ceritanya rindu kampung dan sanak saudara nih suami saya. Kami pun kembali melanjutkan 65km perjalanan menuju Damai Laut, Lumut.
Saturday, March 24, 2007
Uang di ember, Mr. Bean
Pfff...
Kayaknya tiada hari berlalu tanpa membaca berita kasus korupsi, pemakaian uang negara untuk hal-hal yang gak penting, kriminal yang melibatkan anak-anak..wadooh rasanya lebih senang membuka situs polisi fesyen lokal atau internasional daripada membaca berita-berita yang menyesakkan dada tapi tak juga bisa berbuat apa-apa.
Anggota dpr dapat jatah laptop 21 juta, wow!! Sony vaio centrino duo udah dilengkapi windows vista aja disini 6500 ringgit (kira-kira 16.5juta rupiah). Mungkin kalo ordernya sebanyak anggota dpr bisa dihemat banget. Huh, spesifikasi macam apa sih yang dimaui? Sepenting apa juga laptop-laptop itu berperan nantinya, ntar cuma buat chatting mencela sesama anggota, atau bilangin "eh jasnya si A belinya pas sale tuh" atau "lihat batu cincin si B? Bagus ya, cari tau beli dimana dong.." atau hal-hal gak penting lainnya. Halah, kita ini cuma bisa ngedumel aja ya.. toh si laptop tetap sampai ke pahanya anggota dpr yang terhormat.
Belum lagi uang ratusan juta tersimpan di toilet dan di dalam ember pula. Wadooh, apa pula ini? Kenapa gak di safe deposit box aja ya? Tidak di rekening bank, dan tidak di dalam rumah juga..bebas geledah gitu. Lho, kok malah saya memberi ide brilian sih? Sudahlah, lagi-lagi kita cuma bisa ngedumel..
Trus, udah nonton Mr.Bean holiday?
Film-nya sih tipikal Mr.Bean banget, cuma karena kemaren nontonnya beramai-ramai plus membawa anak-anak kecil tapi yah sebentar banget sih, kurang berkesan ah..(rada sedih karena belum kesampaian nonton Pursuit of Happyness, An Inconvenient Truth, Pan's Labyrinth).
Nonton Mr. Bean kemaren dapat apa ya kalau ditanya "what's the moral of the story"?
Mm, "don't judge book from it's cover" menurut saya sih. Samapi jumpa!
Kayaknya tiada hari berlalu tanpa membaca berita kasus korupsi, pemakaian uang negara untuk hal-hal yang gak penting, kriminal yang melibatkan anak-anak..wadooh rasanya lebih senang membuka situs polisi fesyen lokal atau internasional daripada membaca berita-berita yang menyesakkan dada tapi tak juga bisa berbuat apa-apa.
Anggota dpr dapat jatah laptop 21 juta, wow!! Sony vaio centrino duo udah dilengkapi windows vista aja disini 6500 ringgit (kira-kira 16.5juta rupiah). Mungkin kalo ordernya sebanyak anggota dpr bisa dihemat banget. Huh, spesifikasi macam apa sih yang dimaui? Sepenting apa juga laptop-laptop itu berperan nantinya, ntar cuma buat chatting mencela sesama anggota, atau bilangin "eh jasnya si A belinya pas sale tuh" atau "lihat batu cincin si B? Bagus ya, cari tau beli dimana dong.." atau hal-hal gak penting lainnya. Halah, kita ini cuma bisa ngedumel aja ya.. toh si laptop tetap sampai ke pahanya anggota dpr yang terhormat.
Belum lagi uang ratusan juta tersimpan di toilet dan di dalam ember pula. Wadooh, apa pula ini? Kenapa gak di safe deposit box aja ya? Tidak di rekening bank, dan tidak di dalam rumah juga..bebas geledah gitu. Lho, kok malah saya memberi ide brilian sih? Sudahlah, lagi-lagi kita cuma bisa ngedumel..
Trus, udah nonton Mr.Bean holiday?
Film-nya sih tipikal Mr.Bean banget, cuma karena kemaren nontonnya beramai-ramai plus membawa anak-anak kecil tapi yah sebentar banget sih, kurang berkesan ah..(rada sedih karena belum kesampaian nonton Pursuit of Happyness, An Inconvenient Truth, Pan's Labyrinth).
Nonton Mr. Bean kemaren dapat apa ya kalau ditanya "what's the moral of the story"?
Mm, "don't judge book from it's cover" menurut saya sih. Samapi jumpa!
Monday, March 19, 2007
Hmmm...
Bermaksud untuk menulis 'apa saja' setiap hari sepertinya belum bisa dilakukan. Kemaren mama papa datang, jadinya sibuk deh kesana kemari, ditambah lagi diada sedang batuk pilek, jadi aktivitas menulis tergantikan sementara oleh yang lain-lain itu.
Oya di milis ibu-ibu, mba yuenda menulis tentang peringkat korup indonesia yang sudah menurun (saya kebetulan sudah tahu sebelumnya dari membaca blog bergerak). Turun peringkat yang menurut saya cuma memberikan efek psikologis saja bahwa negara kita ternyata sudah tidak menjadi negara terkorup di dunia. Saya bilang juga (di milis itu) kalau angka korupnya toh tidak berubah. Tapi teman saya mba yuenda itu memang kena efek psikologis bahwa dengan turun peringkat-nya negara kita itu, dia sudah bersyukur setidaknya sudah ada yang berkurang predikat negara kita dari ter- yang negatif itu.
Jadi, kita berdoa saja semoga kelak diada kembali ke tanah air dalam keadaan lebih baik, lebih rapi, lebih nyaman, atau paling tidak lebih kurang tidak sama dengan keadaan sekarang ya.. amin..
Oya di milis ibu-ibu, mba yuenda menulis tentang peringkat korup indonesia yang sudah menurun (saya kebetulan sudah tahu sebelumnya dari membaca blog bergerak). Turun peringkat yang menurut saya cuma memberikan efek psikologis saja bahwa negara kita ternyata sudah tidak menjadi negara terkorup di dunia. Saya bilang juga (di milis itu) kalau angka korupnya toh tidak berubah. Tapi teman saya mba yuenda itu memang kena efek psikologis bahwa dengan turun peringkat-nya negara kita itu, dia sudah bersyukur setidaknya sudah ada yang berkurang predikat negara kita dari ter- yang negatif itu.
Jadi, kita berdoa saja semoga kelak diada kembali ke tanah air dalam keadaan lebih baik, lebih rapi, lebih nyaman, atau paling tidak lebih kurang tidak sama dengan keadaan sekarang ya.. amin..
Saturday, March 17, 2007
Cantik, everyone?
Pernah mendengar ungkapan Leo Tolstoy "beauty is in the eye of the beholder"?
Beberapa waktu yang lalu, saya nonton serial nip/tuck di AXNChannel. Ceritanya waktu itu ada seorang perempuan buta yang cantik ingin dipasangkan semacam kornea untuk membuat matanya terlihat lebih ekspresif. Si dokter bertanya kenapa dia mengingingkan operasi demikian sedangkan dia sudah cantik walaupun buta. Si perempuan menjawab "pretty is in the eye of the beholder, beauty is in the soul".
Ungkapan tersebut dalem sekali rasanya menurut saya. Betapa kosa kata bahasa inggeris di dalam kalimat tersebut begitu membedakan kecantikan fisik dan kecantikan hati, sedangkan dalam bahasa kita nih semuanya sama-sama cantik.
Jadi sebagai perempuan, kita mau pretty atau kita mau beauty?
Sebuah produsen sabun mandi terkenal di Indonesia tampaknya juga sedang mengkampanyekan dua aspek kecantikan (coba lihat di sini deh). Bermacam-macam pertanyaan dan pernyataan bisa keluar kalau ngomongin soal kecantikan, ya ngga?
Di majalah perempuan yang saya baca, iklan kecantikan (mulai dari perawatan tubuh, kulit,muka, dsb. dsb.) mendominasi lho. Bahkan di koran terbesar di Malaysia pun tidak lepas dari iklan-iklan kecantikan ini. Mau muka mulus bebas jerawat, bordir alis, perut rata mulus bebas guratan jeruk purut, langsing singset, bugar sehat, vitamin kecantikan, wah layaknya iklan tv kabel nih "macam-macam ada".
Lha, memang siapa yang tidak mau cantik sih?
Jawabannya: tidak ada
Semuanya tentu ingin cantik. Yang tidak mengaku atau merasa cantik pun di dalam lubuk hati adalah merasa atau setidaknya [ingin] merasa cantik.
Saya sih tidak akan memberikan tips tentang kecantikan atau kiat-kiat untuk tampil pe-de dan cantik wong saya bukan pakar kecantikan cum pakar kepribadian bla bla bla.
Saya cuma mau bilang, saya sendiri tergoda untuk mencoba segala tawaran iklan kecantikan tersebut tapi pada akhirnya selalu urung (duit tentu menjadi faktor penentu juga hahaha). Pada akhirnya sih saya bersyukur saja dengan apa yang saya ada, seperti kata perempuan buta itu: "pretty is in the eye of beholder, beauty is in the soul".
So, cantik, everyone?
Subscribe to:
Posts (Atom)