"Kapan nambah lagi, din?"
"Diada udah butuh teman tuh kayanya, kapan nih?"
"Ayo buruan..udah dua tahun kan?"
"Kapan hamil lagi nih?"
Belakangan ini saya sering menerima pertanyaan seperti itu. Thanks to banyaknya teman-teman yang melahirkan pada tahun ini saja. Tak kurang dari 10 orang di negara ini dan empat orang di negara saya yang sudah atau baru saja melahirkan. Ada yang anak pertama, ada yang anak kedua, ada juga yang anak ketiga-empat-lima-enam (serius, eman!).
Tidak heran juga kalau pemerintah negara kita itu sedang melancarkan (kembali) gerakan keluarga berencana alias KB. Negara kita sedang mengalami era baby boomers lagi. Dan sepertinya ada kecenderungan ke arah pendapat "dua anak (tidak lagi) cukup, paling tidak tiga-lah" (ini murni pendapat saya lho ya, bukan penelitian BKKBN).
Lha, hubungannya dengan pertanyaan di atas?
Saya tidak menghakimi teman-teman yang punya anak lebih dari dua. Jumlah anak yang diinginkan setiap keluarga kan urusan dapur rumah tangga masing-masing. Kalau pun ada seorang teman yang tidak mau punya anak sama sekali demi mengurangi emisi gas buang sekaligus dan mengurangi pemanasan global (serius kok, ini alasannya. Ada di milis pernyataannya, :)), saya juga tidak berhak komentar.
Saya (sedang) mau merenungi alasan saya sendiri yang belum menambah anak. Biasanya saya menjawab pertanyaan di atas dengan:
"nambah lagi? mm.ntar dulu deh.."
"hamil? yang lain dulu aja deh.. ga mau ikut tren pada hamil"
"buka spiral aja belum, gimana mo hamil?"
atau dijawab oleh teman saya yang lain:
"huu.. dience baru kurus gitu disuruh hamil lagi, mana mau dia"
Hmm, kayanya jawaban terakhir yang paling betul deh, hahaha..
Tapi, apa sih alasan saya untuk (belum) hamil lagi?
Terus terang saya tidak punya jawaban pasti untuk pertanyaan ini. Ini jawaban yang mungkin.
Suami saya juga belum excited untuk menambah anak. Katanya "ntarlah, tunggu diada gede dulu". Hayo, bagaimana saya mengartikan 'gede' itu umur berapa ya? Mungkin maksudnya kita santai soal anak ini. Sama halnya ketika mau hamil anak pertama dulu. Saya cuma berharap saya baru hamil setelah magister profesi saya selesai (yang memang tidak disarankan bagi mahasiswa untuk hamil ketika sedang mengikuti program profesi). Eh ternyata saya pindah ke negeri seberang. Kuliah ditinggal. Hamil tak kunjung datang. Kita juga tidak neko-neko soal kapan akan diberi rezeki hamil. Tidak ada desakan dari keluarga kami. Saya malah senang 'pacaran' dengan suami setelah menikah. Setelah hampir dua tahun menikah, baru saya hamil Tentu saja kami senang dan eexcited. Saya tidak punya pengalaman buruk sepanjang hamil dan persalinan. Jadi, pada dasarnya tidak ada alasan 'trauma hamil pertama' yang menghalangi saya untuk hamil anak berikutnya (hehehe).
Perihal suami yang belum kepengen nambah ini juga tidak usah dibesar-besarkan. Alasan yang lebih mungkin lagi adalah kami belum puas melihat diada tumbuh dan bertingkah. Tiada hari yang terlewatkan tanpa melihat polah, mendengar celotehan diada. Saya sendiri yang (mungkin) belum siap membagi kasih saya dengan adiknya nanti. Alasan apa pula itu? Orang lain toh baik-baik saja. Dibuat-buat itu. Terserah deh. Menurut saya, itu alasan yang lebih mungkin. Dalam hal ini saya tidak peduli orang mau bilang:
"buruan, mumpung diada masih kecil, jadi sekalian gedenya"
"buruan, mumpung masih muda.."
Yang terakhir sih ada benarnya. Anyway, saya sudah memperhitungkan usia kok kalau nanti mau hamil lagi.
Sepanjang menulis ini, saya masih berfikir "memangnya apa sih yang menunda saya untuk hamil sekarang?"
Jwabannya ternyata saya tidak punya alasan apa-apa lho. Memang tidak masuk agenda saya untuk hamil saat ini.
Bahwa saya ber-KB menggunakan IUD memang alasan saya untuk menjarangkan kehamilan. Jadi, selama saya belum membuka si IUD, ya mudah-mudahan saya tidak hamil toh?
Bahwa saya memang sedang menikmati diri saya (istilah sebuah majalah: me time) ya benar juga. Saya memang baru 'enak' bergerak dengan berat badan yang ideal (lagi). Saya sedang menikmati keseimbangan ini. Saya masih bisa 'jalan-jalan' dan meninggalkan diada beberapa waktu. Saya masih bisa membaca buku-buku baru, nonton film, nonton serial di dvd ketika diada tidur (kadang juga pas dia bangun sih, hehehe) --yang kalau ada si adik bayi, saya belum tentu bisa se'bebas' ini.
Ups, saya tidak menyatakan teman-teman tidak 'bebas' lho. Saya ikut bahagia menyaksikan kelahiran 'ponakan' baru itu. Salut dengan mereka yang mampu mengurus rumah tangga sendiri tanpa ditemani asisten. Untuk yang satu itu, saya menyerah sebelum mencoba.
Sederhana saja, saya belum mau. Tidak ada alasan.
Monday, December 03, 2007
Kemana perginya cinta?
Mereka bersahabat sejak zaman SMA tapi tak bercinta seperti Galih dan Ratna.
Mereka mengekalkan persahabatan meski ruang dan waktu memisahkan fisik mereka.
Mereka bertemu kembali pada satu titik dimana mereka melewati batas persahabatan dan cinta memberi makna lain bagi hubungan mereka.
Mereka menikah, membentuk keluarga, menciptakan persahabatan yang sejatinya kekal hingga muat memisahkan.
Tidak mereka yang memutuskan untuk menghentikan hubungan mereka tiga tahun kemudaian.
Tidak mereka yang melupakan persahabatan selama satu dekade dan tiga tahun hanya menjadi kenangan.
Tidak mereka..tapi dia.
Dia berkata.
Dia protes.
Dia berontak.
Dia terhenyak.
Dia diam.
Dia berusaha.
Dia kecewa.
Mereka (akan) bertemu lagi pagi ini di pengadilan agama.
Kemana perginya cinta?
Mereka mengekalkan persahabatan meski ruang dan waktu memisahkan fisik mereka.
Mereka bertemu kembali pada satu titik dimana mereka melewati batas persahabatan dan cinta memberi makna lain bagi hubungan mereka.
Mereka menikah, membentuk keluarga, menciptakan persahabatan yang sejatinya kekal hingga muat memisahkan.
Tidak mereka yang memutuskan untuk menghentikan hubungan mereka tiga tahun kemudaian.
Tidak mereka yang melupakan persahabatan selama satu dekade dan tiga tahun hanya menjadi kenangan.
Tidak mereka..tapi dia.
Dia berkata.
Dia protes.
Dia berontak.
Dia terhenyak.
Dia diam.
Dia berusaha.
Dia kecewa.
Mereka (akan) bertemu lagi pagi ini di pengadilan agama.
Kemana perginya cinta?
Saturday, December 01, 2007
Sale dan Saya
Sale = ikan salae? pisang sale?
bukan..
Ini tentang pemotongan harga barang yang ditujukan untuk menghabiskan stok atau barang-barang yang sudah lewat musim.
Sale dan saya?
Hmm..
Tinggal di negara ini, kebetulan lagi tinggal di tengah kota, akses ke pusat perbelanjaan terkemuka sangat dekat. Empat tahun lalu, ketika saya sebagai pengantin baru (ceile) datang ke negara ini, tiada teman sebaya, tiada kegiatan yang berarti; Mall to Mall visit menjadi kegiatan sehari-hari. Meski tidak berbelanja apa-apa (oya?), saya tetap mengukur jalan ke mal-mal itu.
Ternyata o ternyata, negara ini mengadakan kamapnye resmi pesta diskon selama dua kali setahun untuk mengundang turis datang dan megnalihkan perhatian turis untuk tidak hanya singgah ke negara tetangga (yang pulau itu lho, bukan negara saya) tetapi juga ke negara ini. Maka peluncuran pesta diskon alias sale ini diadakan dengan serius plus pesta kembang api yang spektakuler sebagai pembukanya. Wah, niat sekali pemerintah di sini ya. Departemen Parisiwata-nya mengajak pemilik toko untuk menggelar promosi atau banting harga setiap bulan Juni (M******* Mega Sale Carnival) dan Desember (Year End Sale).
Trus, apa cuma itu saja?
Oo tidak dong.. Itu baru yang dianjurkan pemerintah. Belum lagi tiap anchor department store, grup atau kelompok pemegang lisensi merk-merk impor sedang berulang tahun, maka mereka pun akan mengadakan pesta diskon besar-besaran. Sepanjang pengetahuan saya, saya sendiri tidak bisa ingat bulan apa yang benar-benar sepi dari diskon -dalam arti tak satu department stroe pun sedang mengumbar sale. Kalau I sadang anniversary sale, bulan depan J juga ulang tahun. Nantikan saja kapan P, M, T, dan kelompok P berulang tahun dan bagi-bagi sale.
Cukup?
Tidak dong.
Selalu ada cerita menarik sepuatar sale di sini. Mereka berlomba-lomba menarik warga untuk menjadi member yang dijanjikan akan mendapat hak ekslusif sebagai orang yang boleh masuk pada hari pertama sale. Tapi bagaimana si member (termasuk saya) mau merasa ekslusif, kalau ternyata yang jadi member buanyaaaaaaaak sekali. Sementara pilihan barang belum tentu bagus dan jumlahnya pastilah terbatas.
Ugh, kesel?
Tidak juga. Saya sih mungkin yang selalu hadir di setiap sale tersebut. Beli membeli sih urusan nomor sekian. Peristiwa sale ini malah menjadi ajang bertemu dengan teman-teman juga kok. Menikmati antri sambil menertawakan diri sendiri, kok kita mau-maunya antri menuju sale ini. Tapi ya tertawa puas juga dapat membeli tas tangan kulit merk ternama (yang harganya bisa jutaan rupiah) ternyata cuma 50ribu rupiah saja. Ah.. sale...
Itu baru yang di dalam mal lho teman-teman..
Ini nih yang lebih seru.. warehouse sale namanya. Sale jenis ini biasanya langsung dikelola oleh pabrik dan tempatnya pun bukan di dlam mal, melainkan di gudang tempat penyimpanan barang atau bisa juga di tempat umum, seperti lapangan tembak, lapangan futsal, dan lain-lain. Yang paling umum sih tempat wartehouse sale diadakan ya di pinggiran kota (alias di kawasan industri gitu lho).
Pertama kali tahu ada yang seperti ini..mmm.. kapan ya? Sebenarnya dari dulu udah cukup sering baca di koran lokal tentang ini. Saya tidak terlalu peduli, karena biasanya barang elektronik, keramik, barang-barang pengisi dapur. Bahkan pertama kali teman memberi tahu ada warehouse sale prianti makan merk c*****e, p****, v*****s; saya tidak peduli. Wah, belum dunia ibu rumah tangga lho saya --waktu itu. Trus warehouse sale panci merk la g*****t, saya masih cuek saja. Berikutnya, warehouse sale sepatu merk c****s. Mm, boleh juga nih. Walaupun bukan gaya saya sih.
Waduh, ternyata seni mengantri di warehouse sale lebih garang daripada yang di mal. Seperti kata pepatah banget deh, early birds catch the world. Orang-orang (kadang-kadang termasuk saya juga) rela datang 1-2 jam sebelum pintu dibuka. Weleh-erleh..
Kalau diingat-ingat, saya baru tertarik memperhatikan iklan-iklan warehouse sale ini setelah punya anak. Dan setelah punya teman yang lebih 'berpengalaman hidup" daripada saya. Menariknya warehouse sale disini, karena barang-barangnya benar-benar dari pabrik yang harus dihabiskan dan dijual dengan separo (seringnya malah lebih dari separo) harga.
Seperti misalnya pabrik mainan M****l. Rasanya mereka juga punya pabrik di negara saya. Tidak pernah terdengar mereka mengadakan 'cuci gudang'. Apa barang-barangnya tidak pernah bersisa, sehingga tidak ada stok yang mesti dihabiskan sebelum datang barang yang baru?
Wah, saya ndak berani jawab nih. Apalagi setelah saya cek, ada produk mainan tersebut yang tertulis buatan negara saya. Semenjak mengetahui ada warehouse sale mainan ini, saya jadi tidak berminat beli mainan di mal-mal lagi. Perbedaan harganya sangat signifikan gitu lho. Begitu juga dengan warehouse sale yang lain-lain, mulai dari buku sampai kosmetik, panci hingga pakaian dalam.
Tapi, pakai tapi lagi nih, saya juga suka merenung kelakuan saya dan sikap saya terhadap sale ini. Apakah saya disilaukan oleh pabrik-pabrik itu? Kalau baca buku atau berduskusi dengan penganut antikapitalis, wah saya mungkin sudah dihujat kali ya.
Iya, saya juga tahu bahwa segala yang berlebihan itu tidak baik.
Saya cukup tersentil ketika seorang teman berkomentar seperti ini:
"wets, kok pucat? Abis warehouse sale ga sempat bedakan ya? Buat apa sih dikeja ampe ke sono?"
atau
saya dan teman A: "hai..(cupika cupiki).. apa kabar? Sendirian? Mau ke I ya?"
Teman B: "Ke I? Hii.. takut.. gak bawa tasbih & zikir, ini cuma mau jemput suami"
Wooo.. sungguh speechless deh saya..
Balik rumah, naro barang, mandi, main sama anak. Anak disuapin makan, saya buka kompi. Buka imel, buka situs berita, buka situs favorit saya, dan buka situs yang mengumumkan sale di serantau tempat tinggal saya kini.
-moderator situs tersebut malah terkaget-kaget mendapati 21 jenis warehouse sale pada minggu ini saja-
bukan..
Ini tentang pemotongan harga barang yang ditujukan untuk menghabiskan stok atau barang-barang yang sudah lewat musim.
Sale dan saya?
Hmm..
Tinggal di negara ini, kebetulan lagi tinggal di tengah kota, akses ke pusat perbelanjaan terkemuka sangat dekat. Empat tahun lalu, ketika saya sebagai pengantin baru (ceile) datang ke negara ini, tiada teman sebaya, tiada kegiatan yang berarti; Mall to Mall visit menjadi kegiatan sehari-hari. Meski tidak berbelanja apa-apa (oya?), saya tetap mengukur jalan ke mal-mal itu.
Ternyata o ternyata, negara ini mengadakan kamapnye resmi pesta diskon selama dua kali setahun untuk mengundang turis datang dan megnalihkan perhatian turis untuk tidak hanya singgah ke negara tetangga (yang pulau itu lho, bukan negara saya) tetapi juga ke negara ini. Maka peluncuran pesta diskon alias sale ini diadakan dengan serius plus pesta kembang api yang spektakuler sebagai pembukanya. Wah, niat sekali pemerintah di sini ya. Departemen Parisiwata-nya mengajak pemilik toko untuk menggelar promosi atau banting harga setiap bulan Juni (M******* Mega Sale Carnival) dan Desember (Year End Sale).
Trus, apa cuma itu saja?
Oo tidak dong.. Itu baru yang dianjurkan pemerintah. Belum lagi tiap anchor department store, grup atau kelompok pemegang lisensi merk-merk impor sedang berulang tahun, maka mereka pun akan mengadakan pesta diskon besar-besaran. Sepanjang pengetahuan saya, saya sendiri tidak bisa ingat bulan apa yang benar-benar sepi dari diskon -dalam arti tak satu department stroe pun sedang mengumbar sale. Kalau I sadang anniversary sale, bulan depan J juga ulang tahun. Nantikan saja kapan P, M, T, dan kelompok P berulang tahun dan bagi-bagi sale.
Cukup?
Tidak dong.
Selalu ada cerita menarik sepuatar sale di sini. Mereka berlomba-lomba menarik warga untuk menjadi member yang dijanjikan akan mendapat hak ekslusif sebagai orang yang boleh masuk pada hari pertama sale. Tapi bagaimana si member (termasuk saya) mau merasa ekslusif, kalau ternyata yang jadi member buanyaaaaaaaak sekali. Sementara pilihan barang belum tentu bagus dan jumlahnya pastilah terbatas.
Ugh, kesel?
Tidak juga. Saya sih mungkin yang selalu hadir di setiap sale tersebut. Beli membeli sih urusan nomor sekian. Peristiwa sale ini malah menjadi ajang bertemu dengan teman-teman juga kok. Menikmati antri sambil menertawakan diri sendiri, kok kita mau-maunya antri menuju sale ini. Tapi ya tertawa puas juga dapat membeli tas tangan kulit merk ternama (yang harganya bisa jutaan rupiah) ternyata cuma 50ribu rupiah saja. Ah.. sale...
Itu baru yang di dalam mal lho teman-teman..
Ini nih yang lebih seru.. warehouse sale namanya. Sale jenis ini biasanya langsung dikelola oleh pabrik dan tempatnya pun bukan di dlam mal, melainkan di gudang tempat penyimpanan barang atau bisa juga di tempat umum, seperti lapangan tembak, lapangan futsal, dan lain-lain. Yang paling umum sih tempat wartehouse sale diadakan ya di pinggiran kota (alias di kawasan industri gitu lho).
Pertama kali tahu ada yang seperti ini..mmm.. kapan ya? Sebenarnya dari dulu udah cukup sering baca di koran lokal tentang ini. Saya tidak terlalu peduli, karena biasanya barang elektronik, keramik, barang-barang pengisi dapur. Bahkan pertama kali teman memberi tahu ada warehouse sale prianti makan merk c*****e, p****, v*****s; saya tidak peduli. Wah, belum dunia ibu rumah tangga lho saya --waktu itu. Trus warehouse sale panci merk la g*****t, saya masih cuek saja. Berikutnya, warehouse sale sepatu merk c****s. Mm, boleh juga nih. Walaupun bukan gaya saya sih.
Waduh, ternyata seni mengantri di warehouse sale lebih garang daripada yang di mal. Seperti kata pepatah banget deh, early birds catch the world. Orang-orang (kadang-kadang termasuk saya juga) rela datang 1-2 jam sebelum pintu dibuka. Weleh-erleh..
Kalau diingat-ingat, saya baru tertarik memperhatikan iklan-iklan warehouse sale ini setelah punya anak. Dan setelah punya teman yang lebih 'berpengalaman hidup" daripada saya. Menariknya warehouse sale disini, karena barang-barangnya benar-benar dari pabrik yang harus dihabiskan dan dijual dengan separo (seringnya malah lebih dari separo) harga.
Seperti misalnya pabrik mainan M****l. Rasanya mereka juga punya pabrik di negara saya. Tidak pernah terdengar mereka mengadakan 'cuci gudang'. Apa barang-barangnya tidak pernah bersisa, sehingga tidak ada stok yang mesti dihabiskan sebelum datang barang yang baru?
Wah, saya ndak berani jawab nih. Apalagi setelah saya cek, ada produk mainan tersebut yang tertulis buatan negara saya. Semenjak mengetahui ada warehouse sale mainan ini, saya jadi tidak berminat beli mainan di mal-mal lagi. Perbedaan harganya sangat signifikan gitu lho. Begitu juga dengan warehouse sale yang lain-lain, mulai dari buku sampai kosmetik, panci hingga pakaian dalam.
Tapi, pakai tapi lagi nih, saya juga suka merenung kelakuan saya dan sikap saya terhadap sale ini. Apakah saya disilaukan oleh pabrik-pabrik itu? Kalau baca buku atau berduskusi dengan penganut antikapitalis, wah saya mungkin sudah dihujat kali ya.
Iya, saya juga tahu bahwa segala yang berlebihan itu tidak baik.
Saya cukup tersentil ketika seorang teman berkomentar seperti ini:
"wets, kok pucat? Abis warehouse sale ga sempat bedakan ya? Buat apa sih dikeja ampe ke sono?"
atau
saya dan teman A: "hai..(cupika cupiki).. apa kabar? Sendirian? Mau ke I ya?"
Teman B: "Ke I? Hii.. takut.. gak bawa tasbih & zikir, ini cuma mau jemput suami"
Wooo.. sungguh speechless deh saya..
Balik rumah, naro barang, mandi, main sama anak. Anak disuapin makan, saya buka kompi. Buka imel, buka situs berita, buka situs favorit saya, dan buka situs yang mengumumkan sale di serantau tempat tinggal saya kini.
-moderator situs tersebut malah terkaget-kaget mendapati 21 jenis warehouse sale pada minggu ini saja-
Thursday, November 29, 2007
tentang:menulis
Eh, saya nulis lagi ah.
Bagaimana cara menulis yang baik ya? Sepanjang ingatan saya, beberapa kali saya pernah membaca kalimat seperti ini di blognya orang-orang (sekali lagi: saya tidak harus membuat link mereka satu persatu kan, saya itungannya termasuk gatek soal ini,lho).
Waktu kuliah semester pertama, saya mengambil mata kuliah pilihan Bimbingan Menulis. Saya dapat nilai C. Wah sedih dan rada jatuh mental saya. Ibu Julia (waktu itu) dengan tiga asdos yang waktu itu unreachable menyuruh kami membaca buku-buku sastra untuk rujukan, katakanlah Ayu Utami, Seno Gumira, dll. Waduh, saya yang datang dari daerah (ini istilah teman-teman yang lulus SMA-nya di Jakarta, lho) tidak pernah membaca buku sastra yang dikarang oleh orang Indonesia (apalagi sastra asing hehehe). Bacaan saya terakhir adalah terjemahan Sidney Sheldon. Selebihnya yah Lima Sekawan, Trio Detektif, Pasukan Mau Tahu, Tintin, Asterix, KhoPingHoo punya abang saya, Mira W punya kakak sepupu. Eh tapi ini tentang menulis kan ya, maap.
Nah ceritanya, saya mulai mempelajari menulis ala sastra itu, termasuklah asdos saya yang kemudian menelurkan beberapa novel, menjadi dosen filsafat, dan sekarang jadi pejabat di kampus saya itu. Tapi, tetap saja saya mulai ndak dong memahami makna tersirat dan tersurat. Saya rajin membeli kumpulan cerpen-nya seno. Beberapa jadi teman menjelang tidur. Haduh gawat deh.. nalar saya gak mampu nih..tapi waktu terus berlalu. Saya sibuk dengan mata kuliah lain dong.
Tingkat tiga, saya mulai panik. Saya musti mikirin menulis skripsi. Saya ambil mata kuliah pilihan (lagi): Seminar Skripsi, diajar dosen ganteng nan dingin (halah!). Rasanya saya yang paling gagal. Tidak maju-maju dari ide. Ide aja gak pernah diungkapkan dengan bahasa tulisan yang bagus. Impian terlalu tinggi untuk menulis sesuatu yang berbeda dari skripsi yang pernah ada. Saya jadi yang paling dicuekin idenya di kelas itu. Selalu menjadi yang paling terakhir di-review. Saya lupa dapat nilai apa. Yang jelas seminar itu tujuannya menghasilkan proposal skripsi yang siap dilaksanakan pada semester berikutnya. Dua sahabat saya maju dengan mulus. Teman saya mendapatkan dosen ganteng nan dingin sebagai pembimbing. Saya? Dapat temannya dosen ganteng nan dingin itu dong.
Saya yang paling tidak pede ketika itu. Saya jadi yang paling lambat mengumpulkan skripsi untuk dateline semester tersebut. Lebih panik, karena pembimbing saya menunjuk temannya -yang notabene dosen ganteng nan dingin- itu sebagai penguji. Waduh, seperti apa tulisan saya akan dinilai? Saya sidang di hari ulang tahun beliau, saya berdoa mudah-mudahan beliau dalam mood yang baik ketika menguji saya.
Hasilnya? Tulisan saya dianggap sangat bagus, dapat nilai A dong!
Cihuy, apakah dengan demikian saya sudah bisa menulis?
Oo oo.. saya tidak tahu.
Saya masih tetap seperti ini.
Saya tidak punya cita-cita muluk dengan blog saya ini. Blog abal-abal (kata sebuah blog yang saya singgahi --linknya?).
Tidak mengapa.
Sekarang saya diwajibkan menulis tesis yang sudah 2 tahun saya lupakan. Bulan depan, kalau tidak juga kelar.. DO (de-oo)..
Bagaimana cara menulis yang baik ya? Sepanjang ingatan saya, beberapa kali saya pernah membaca kalimat seperti ini di blognya orang-orang (sekali lagi: saya tidak harus membuat link mereka satu persatu kan, saya itungannya termasuk gatek soal ini,lho).
Waktu kuliah semester pertama, saya mengambil mata kuliah pilihan Bimbingan Menulis. Saya dapat nilai C. Wah sedih dan rada jatuh mental saya. Ibu Julia (waktu itu) dengan tiga asdos yang waktu itu unreachable menyuruh kami membaca buku-buku sastra untuk rujukan, katakanlah Ayu Utami, Seno Gumira, dll. Waduh, saya yang datang dari daerah (ini istilah teman-teman yang lulus SMA-nya di Jakarta, lho) tidak pernah membaca buku sastra yang dikarang oleh orang Indonesia (apalagi sastra asing hehehe). Bacaan saya terakhir adalah terjemahan Sidney Sheldon. Selebihnya yah Lima Sekawan, Trio Detektif, Pasukan Mau Tahu, Tintin, Asterix, KhoPingHoo punya abang saya, Mira W punya kakak sepupu. Eh tapi ini tentang menulis kan ya, maap.
Nah ceritanya, saya mulai mempelajari menulis ala sastra itu, termasuklah asdos saya yang kemudian menelurkan beberapa novel, menjadi dosen filsafat, dan sekarang jadi pejabat di kampus saya itu. Tapi, tetap saja saya mulai ndak dong memahami makna tersirat dan tersurat. Saya rajin membeli kumpulan cerpen-nya seno. Beberapa jadi teman menjelang tidur. Haduh gawat deh.. nalar saya gak mampu nih..tapi waktu terus berlalu. Saya sibuk dengan mata kuliah lain dong.
Tingkat tiga, saya mulai panik. Saya musti mikirin menulis skripsi. Saya ambil mata kuliah pilihan (lagi): Seminar Skripsi, diajar dosen ganteng nan dingin (halah!). Rasanya saya yang paling gagal. Tidak maju-maju dari ide. Ide aja gak pernah diungkapkan dengan bahasa tulisan yang bagus. Impian terlalu tinggi untuk menulis sesuatu yang berbeda dari skripsi yang pernah ada. Saya jadi yang paling dicuekin idenya di kelas itu. Selalu menjadi yang paling terakhir di-review. Saya lupa dapat nilai apa. Yang jelas seminar itu tujuannya menghasilkan proposal skripsi yang siap dilaksanakan pada semester berikutnya. Dua sahabat saya maju dengan mulus. Teman saya mendapatkan dosen ganteng nan dingin sebagai pembimbing. Saya? Dapat temannya dosen ganteng nan dingin itu dong.
Saya yang paling tidak pede ketika itu. Saya jadi yang paling lambat mengumpulkan skripsi untuk dateline semester tersebut. Lebih panik, karena pembimbing saya menunjuk temannya -yang notabene dosen ganteng nan dingin- itu sebagai penguji. Waduh, seperti apa tulisan saya akan dinilai? Saya sidang di hari ulang tahun beliau, saya berdoa mudah-mudahan beliau dalam mood yang baik ketika menguji saya.
Hasilnya? Tulisan saya dianggap sangat bagus, dapat nilai A dong!
Cihuy, apakah dengan demikian saya sudah bisa menulis?
Oo oo.. saya tidak tahu.
Saya masih tetap seperti ini.
Saya tidak punya cita-cita muluk dengan blog saya ini. Blog abal-abal (kata sebuah blog yang saya singgahi --linknya?).
Tidak mengapa.
Sekarang saya diwajibkan menulis tesis yang sudah 2 tahun saya lupakan. Bulan depan, kalau tidak juga kelar.. DO (de-oo)..
tentang:blogging
Umm..lamanya nggak menulis apa-apa disini.
Umm.. padahal setiap hari menyinggahi blognya orang-orang, ikut tertawa, ikut sedih, ikut terinspirasi, ikut bingung, ikut-ikut (?)
Katanya (aduh, mesti di-link ke blog yang bersangkutan ga sih..masih bego.net nih soal ini) tidak harus menulis sesuatu yang serius atau menggemparkan dunia kalau mau ngeblog. Begitu kata orang-orang yang udah jadi seleb di ranah maya ini.
Kalau lagi singgah ke blognya orang-orang, wah macam-macam ada di pikiran saya.
Nulis cerita perkembangan anak dari ke hari, wah lucu juga ya. Tapi sepertinya saya bukan orang yang bisa nulis tentang itu. Jadi cukup membaca cerita beberapa teman saja.
Nulis menu makanan sehari-hari, wah keren. Tapi dari awal lagi saya sudah mendedikasikan diri sebagai pengunjung tetap blog-blog masakan, resep, dan kuliner beberapa orang kalau saya lagi kehabisan ide mau makan apa (catat: makan apa, bukan masak apa lho hehehe). Jadi cukup membaca resep beberapa teman saja.
Nulis politik, opini tentang situasi saat ini. Wah senang sekali, ada saja yang mengganggu pikiran saya tentang sesuatu. Tapi saya kok takut ya? Wih, udah ada blog-blog yang udah kadung ok buat dibaca, baik dari negaraku tercinta maupun dari 'negaraku' -judul lagu kebangsaannya- ini; yang sekarang jadi tempat saya bermukim. Rasanya selain baca koran lokal yang pastinya disini sangat dikontrol pemerintah, membaca blog mereka memberi persektif lain buat saya. Jadi cukup membaca opini mereka saja.
Tuh kan?
Saya nulis apa dong?
Saya sih tetap mau menulis apa yang saya suka.
Tapi saya kok ndak meninggalkan jejak di blog-blog yang saya kunjungi?
Saya malu? Saya takut blog saya dibilang ndak mutu? Meskipun saya tau dunia blog ini bukanlah dunia dimana orang berhak menilai dan memberikan penilaian atas blog orang lain. Suka tidak suka, yah begitulah adanya, ya kan?
Kalau gak suka baca, ya ndak usah ditengok-tengok lagi. Kecuali saya mau jadi seleblog juga hahahaha..
Ok deh,
saya siap memulai 'belajar' menulis.
Umm.. padahal setiap hari menyinggahi blognya orang-orang, ikut tertawa, ikut sedih, ikut terinspirasi, ikut bingung, ikut-ikut (?)
Katanya (aduh, mesti di-link ke blog yang bersangkutan ga sih..masih bego.net nih soal ini) tidak harus menulis sesuatu yang serius atau menggemparkan dunia kalau mau ngeblog. Begitu kata orang-orang yang udah jadi seleb di ranah maya ini.
Kalau lagi singgah ke blognya orang-orang, wah macam-macam ada di pikiran saya.
Nulis cerita perkembangan anak dari ke hari, wah lucu juga ya. Tapi sepertinya saya bukan orang yang bisa nulis tentang itu. Jadi cukup membaca cerita beberapa teman saja.
Nulis menu makanan sehari-hari, wah keren. Tapi dari awal lagi saya sudah mendedikasikan diri sebagai pengunjung tetap blog-blog masakan, resep, dan kuliner beberapa orang kalau saya lagi kehabisan ide mau makan apa (catat: makan apa, bukan masak apa lho hehehe). Jadi cukup membaca resep beberapa teman saja.
Nulis politik, opini tentang situasi saat ini. Wah senang sekali, ada saja yang mengganggu pikiran saya tentang sesuatu. Tapi saya kok takut ya? Wih, udah ada blog-blog yang udah kadung ok buat dibaca, baik dari negaraku tercinta maupun dari 'negaraku' -judul lagu kebangsaannya- ini; yang sekarang jadi tempat saya bermukim. Rasanya selain baca koran lokal yang pastinya disini sangat dikontrol pemerintah, membaca blog mereka memberi persektif lain buat saya. Jadi cukup membaca opini mereka saja.
Tuh kan?
Saya nulis apa dong?
Saya sih tetap mau menulis apa yang saya suka.
Tapi saya kok ndak meninggalkan jejak di blog-blog yang saya kunjungi?
Saya malu? Saya takut blog saya dibilang ndak mutu? Meskipun saya tau dunia blog ini bukanlah dunia dimana orang berhak menilai dan memberikan penilaian atas blog orang lain. Suka tidak suka, yah begitulah adanya, ya kan?
Kalau gak suka baca, ya ndak usah ditengok-tengok lagi. Kecuali saya mau jadi seleblog juga hahahaha..
Ok deh,
saya siap memulai 'belajar' menulis.
Monday, August 13, 2007
Emosi:marah
Sabtu, 11 Agustus 2007
Pagi :
Mendapat kepastian kabar tak sedap dari keluarga di jakarta. Hati jadi tak tenteram, nggak tenang, sedih.
Satu hal, memutuskan untuk pilates saja, telat dikit gak papalah. Paling ketinggalan awal-awal doang, pikirku.
Pagi menjelang siang:
Di tempat pilates, nggak bisa fokus, apalagi konsenterasi penuh.
Selesai latihan, ditanyain (dengan nada keras, seperti anak sd jaman dulu yang nggak ngerjain pe-er) mengapa telat padahal saya yang minta jam mulai latihan.
Emosi bangkit, tapi tidak mampu berkata dan menjawab. Dada sesak, merasa diperlakukan tidak adil, tapi tidak berfikir untuk melawan. Halah, malas.
Di luar tempat latihan, suami belum datang. Bete lagi.
Telpon nggak diangkat, pfff, akhirnya datang juga.
Siang:
Di rumah, masih tak habis fikir dengan kejadian pilates tadi. Masih memikirkan rasionalitasnya marah karena saya datang telat. Apakah mengganggu konsentrasi orang lain? Kalau iya, kenapa dari awal tidak disebutkan "Lebih baik tidak usah datang samasekali daripada datang telat dan mengganggu orang banyak"?
Berfikir lagi dan menjadi suuzan alias buruk sangka.
Setiap minggu selalu berakhir dengan topik "apakah kita tetap mulai jam segini?". Tapi hari itu, langsung dimundurkan jadi jam 10.00 karena saya tidak mampu menepati janji datang 9.30.
Apa yang membuat saya berburuk sangka?
Kalimat ini, "Ok then, next friday I can start going out at night again".
Oh, okay, kalau memang maksud dan tujuannya begitu, baiklah. Saya toh pilates buat fun dan menambah manfaat berolahraga. Saya senang dan cocok dengan ritme gerakannya. Tapi saya tidak suka diperlakukan sebegitu.
Apa saya sebegitu berat kesalahannya? Suami saya saja tidak pernah berkata dengan tone seperti itu walaupun dia sedang kesal atas sesuatu hal. Ini lelaki lain. Bah.
Saya marah sekali. Saya emosi.
Sore:
Suami saya pulang dengan membawa berita bahwa ada kejadian di tempat pertandingan badminton.
Seorang lelaki meninju lelaki lain di depan isteri dan anaknya.
Hati telah tersinggung, marwah keluarga telah tersentil.
Suami saya hanya mampu menengahi.
Ini marah yang terkeluar serta merta. Si lelaki satu menganggap ini jihad keluarganya.
Lelaki lain tidak menafikan kesalahannya.
Saya sedih.
Saya memahami lelaki yang memukul. Saya tidak mengasihani yang dipukul.
Saya sedih.
Isteri yang dipukul adalah teman saya. Isteri yang memukul ya teman juga.
Malam:
Mau mencari udara seagar, berakhir dengan udara asap hasil dari pembakar sate di damnasara.
Lumayanlah, makan sate yang bumbunya 'ngindonesia' banget.
Alhamdulillah.
Pagi :
Mendapat kepastian kabar tak sedap dari keluarga di jakarta. Hati jadi tak tenteram, nggak tenang, sedih.
Satu hal, memutuskan untuk pilates saja, telat dikit gak papalah. Paling ketinggalan awal-awal doang, pikirku.
Pagi menjelang siang:
Di tempat pilates, nggak bisa fokus, apalagi konsenterasi penuh.
Selesai latihan, ditanyain (dengan nada keras, seperti anak sd jaman dulu yang nggak ngerjain pe-er) mengapa telat padahal saya yang minta jam mulai latihan.
Emosi bangkit, tapi tidak mampu berkata dan menjawab. Dada sesak, merasa diperlakukan tidak adil, tapi tidak berfikir untuk melawan. Halah, malas.
Di luar tempat latihan, suami belum datang. Bete lagi.
Telpon nggak diangkat, pfff, akhirnya datang juga.
Siang:
Di rumah, masih tak habis fikir dengan kejadian pilates tadi. Masih memikirkan rasionalitasnya marah karena saya datang telat. Apakah mengganggu konsentrasi orang lain? Kalau iya, kenapa dari awal tidak disebutkan "Lebih baik tidak usah datang samasekali daripada datang telat dan mengganggu orang banyak"?
Berfikir lagi dan menjadi suuzan alias buruk sangka.
Setiap minggu selalu berakhir dengan topik "apakah kita tetap mulai jam segini?". Tapi hari itu, langsung dimundurkan jadi jam 10.00 karena saya tidak mampu menepati janji datang 9.30.
Apa yang membuat saya berburuk sangka?
Kalimat ini, "Ok then, next friday I can start going out at night again".
Oh, okay, kalau memang maksud dan tujuannya begitu, baiklah. Saya toh pilates buat fun dan menambah manfaat berolahraga. Saya senang dan cocok dengan ritme gerakannya. Tapi saya tidak suka diperlakukan sebegitu.
Apa saya sebegitu berat kesalahannya? Suami saya saja tidak pernah berkata dengan tone seperti itu walaupun dia sedang kesal atas sesuatu hal. Ini lelaki lain. Bah.
Saya marah sekali. Saya emosi.
Sore:
Suami saya pulang dengan membawa berita bahwa ada kejadian di tempat pertandingan badminton.
Seorang lelaki meninju lelaki lain di depan isteri dan anaknya.
Hati telah tersinggung, marwah keluarga telah tersentil.
Suami saya hanya mampu menengahi.
Ini marah yang terkeluar serta merta. Si lelaki satu menganggap ini jihad keluarganya.
Lelaki lain tidak menafikan kesalahannya.
Saya sedih.
Saya memahami lelaki yang memukul. Saya tidak mengasihani yang dipukul.
Saya sedih.
Isteri yang dipukul adalah teman saya. Isteri yang memukul ya teman juga.
Malam:
Mau mencari udara seagar, berakhir dengan udara asap hasil dari pembakar sate di damnasara.
Lumayanlah, makan sate yang bumbunya 'ngindonesia' banget.
Alhamdulillah.
Friday, August 10, 2007
Apa Kabar, teman?
Sigh..
Mengutip tag-nya ndoro itu, dunia emang sudah tua dan banyak kejutan di tikungan. Entah apa yang sudah terjadi, kok sepertinya nakutin.
Apa saya tidak boleh beli mainan lagi untuk anak saya karena nanti malah meracuninya dengan timbal atau bla bla bla yang saya tidak tahu namanya itu. Di milis, ada daftar panjang mainan-mainan keluaran produsen ternama (dan menurtu saya terpercaya) yang ternyata tidak aman dikonsumsi -eh- dimainkan oleh anak kita. Tidak tahu efek jangka panjangnya seperti apa, karena anak kita belum besar kan?
Di koran dan situs berita online, berbagai permen dan makanan dari negeri China tidak layak dikonsusmi karena kandungan formalin dan sebagainya juga, termasuk permen susu yang bisa dimaan dengan kulitnya itu..hmm.. (padahal di singapura, katanya permen itu aman dikonsumsi).
Tahun lalu, kosmetik murah produksi Cina juga ditarik dari peredaran karena merkuri tinggi dan sebagainya juga.
Tahun lalu -juga- panci teflon tidak aman digunkan, dapat menyebabkan kanker. Sehingga teman-teman (dan termasuk saya) menyegerakan diri membeli panci dan wajan stainless steel sebagai pengganti teflon. Namun tetap saya pakai si teflon itu untuk menggoreng ikan, anti lengket bo'.
Tahun lalu -lagi- peralatan makan melamin tidak aman digunakan terutama untuk makanan panas, karena kandungan melamin akan menjejaskan makanan panas. Untung saya ga suka pakai melamin, jadi tidak ikut teman-teman yang beli piring baru pengganti melamin, :p.
Tahun ini, sepatu Crocs diberi safety warrant untuk tidak dipakai di eskalator (coba perhatikan, buatan Cina juga lho..).
Hari ini -baca situs berita online lagi- pepsodent (household name for a toothpaste) juga mengandung formalin tapi masih dalam batas aman dikonsumsi..--wow nih buat unilever, tapi mereka pasti mampu mengatasinya--
Takutkah kita menghadapi masa depan?
Takutkah saya menghadapinya?
Bolehkah saya memilih santai saja?
Tetap membeli mainan yang saya suka dan anak saya suka, dan memikiran efek jangka panjangnya nanti-nanti saja?
Tetap memakai dan menggunakan apa-apa yang sudah betahun-tahun saya gunakan tapi hati-hati menggunakan produk baru?
Apa kabar, teman?
Bahaya sekalikah dunia ini?
Cuaca dunia pun seperti tak karuan. Banjir di sini. Super panas di sana. Kering di sini. Basah di sana.
Sudahlah, saya mau meonton serial tv dan bermain dengan diada saja.
btw, just a thought,
jangan-jangan penarikan produk cina itu adalah usaha amerika untuk menekan perekonomian mereka ya?
-kebanyakan nonton 24 nih saya-
Mengutip tag-nya ndoro itu, dunia emang sudah tua dan banyak kejutan di tikungan. Entah apa yang sudah terjadi, kok sepertinya nakutin.
Apa saya tidak boleh beli mainan lagi untuk anak saya karena nanti malah meracuninya dengan timbal atau bla bla bla yang saya tidak tahu namanya itu. Di milis, ada daftar panjang mainan-mainan keluaran produsen ternama (dan menurtu saya terpercaya) yang ternyata tidak aman dikonsumsi -eh- dimainkan oleh anak kita. Tidak tahu efek jangka panjangnya seperti apa, karena anak kita belum besar kan?
Di koran dan situs berita online, berbagai permen dan makanan dari negeri China tidak layak dikonsusmi karena kandungan formalin dan sebagainya juga, termasuk permen susu yang bisa dimaan dengan kulitnya itu..hmm.. (padahal di singapura, katanya permen itu aman dikonsumsi).
Tahun lalu, kosmetik murah produksi Cina juga ditarik dari peredaran karena merkuri tinggi dan sebagainya juga.
Tahun lalu -juga- panci teflon tidak aman digunkan, dapat menyebabkan kanker. Sehingga teman-teman (dan termasuk saya) menyegerakan diri membeli panci dan wajan stainless steel sebagai pengganti teflon. Namun tetap saya pakai si teflon itu untuk menggoreng ikan, anti lengket bo'.
Tahun lalu -lagi- peralatan makan melamin tidak aman digunakan terutama untuk makanan panas, karena kandungan melamin akan menjejaskan makanan panas. Untung saya ga suka pakai melamin, jadi tidak ikut teman-teman yang beli piring baru pengganti melamin, :p.
Tahun ini, sepatu Crocs diberi safety warrant untuk tidak dipakai di eskalator (coba perhatikan, buatan Cina juga lho..).
Hari ini -baca situs berita online lagi- pepsodent (household name for a toothpaste) juga mengandung formalin tapi masih dalam batas aman dikonsumsi..--wow nih buat unilever, tapi mereka pasti mampu mengatasinya--
Takutkah kita menghadapi masa depan?
Takutkah saya menghadapinya?
Bolehkah saya memilih santai saja?
Tetap membeli mainan yang saya suka dan anak saya suka, dan memikiran efek jangka panjangnya nanti-nanti saja?
Tetap memakai dan menggunakan apa-apa yang sudah betahun-tahun saya gunakan tapi hati-hati menggunakan produk baru?
Apa kabar, teman?
Bahaya sekalikah dunia ini?
Cuaca dunia pun seperti tak karuan. Banjir di sini. Super panas di sana. Kering di sini. Basah di sana.
Sudahlah, saya mau meonton serial tv dan bermain dengan diada saja.
btw, just a thought,
jangan-jangan penarikan produk cina itu adalah usaha amerika untuk menekan perekonomian mereka ya?
-kebanyakan nonton 24 nih saya-
Subscribe to:
Posts (Atom)